Dua Sudut Pandang pada Penurunan Harga Saham

Penurunan harga saham adalah selalu menjadi momok dalam pasar yang searah. Pasar yang hanya punya sisi beli. Pasar yang hanya menyediakan jalan untung ketika harga naik. Sayangnya, Bursa Saham Indonesia (BEI) termasuk pasar jenis ini. Jadi tidak heran jika setiap penurunan membuat kita dag-dig-dug. Berdebar-debar menghitung sebesar apa kerugian yang dihadapi.

Tapi, apakah memang selalu harus begitu? Apakah kita harus selalu takut terhadap penurunan harga saham? Berdasarkan pengalaman Sekolah Saham, jawabannya adalah tidak selalu. Ada kalanya kita harusnya senang ketika harga turun. Bahkan ketika turun sangat dalam sekalipun.

Dua Sudut Pandang terhadap Penurunan Harga

Lah, kok bisa senang ketika harga turun? Pasar kita kan pasar yang bergerak searah. Jika turun, ya otomatis kita rugi donk. Nggak mungkin senang bukan? Ya, jika melihatnya begitu ya memang penurunan harga saham selalu menjadi sesuatu yang menakutkan.  Untungnya tidak mesti selalu begitu.

Cukup kita bergeser sedikit untuk mengubah sudut pandang maka penurunan harga saham bisa juga menjadi sangat menyenangkan. Sebenarnya, penurunan harga saham dapat dihadapi dengan dua sudut pandang. Sudut pandang optimis dan sudut pandang pesimis. Inilah yang perlu kita pahami agar tidak selalu ketakutan pada penurunan harga.

Sudut pandang pesimis adalah yang paling umum kita gunakan. Pesimis berarti berpendapat bahwa pergerakan harga saham sedang berada dalam tren turun (Bearish). Harga saham akan akan terus bergerak turun. Tentu ini adalah sinyal jual. Akan berusaha untuk sebisa mungkin menjual. Walau harus menanggung kerugian yang cukup besar.

Sudut pandang optimis adalah sesuatu yang jarang digunakan dalam penurunan harga saham. Optimis berarti berpendapat bahwa pergerakan harga saham sedang koreksi dalam tren naik (Bullish). Tentu ini adalah sinyal beli. Kesempatan untuk membeli pada harga bagus sebelum bergerak naik kembali.

Nah, sekarang sudah tahu bukan ada dua sudut pandang yang bisa dipakai dalam menyikapi penurunan harga saham. Selain pesimis, kita bisa juga optimis. Pesimis berarti kita berada dalam posisi jual (sell). Optimis berarti kita berada dalam posisi beli (buy). Sekarang tugas kita adalah mencari tahu kapan saatnya optimis dan kapan pesimis. Ini sangat penting.

Salah mengambil sikap berarti kerugianlah menjadi ganjarannya. Optimis ketika harusnya pesimis, modal kita akan tergerus. Pesimis ketika harusnya optimis, kita akan kehilangan potensi keuntungan. Jadi, dapat dipahami  betapa pentingnya untuk benar mengambil sikap dalam menghadapi penurunan harga saham bukan?

Nah, untuk mengambil keputusan yang tepat, kita dapat memanfaatkan Analisa Teknikal (TA). Tepatnya memanfaatkan kemampuan Analisa Teknikal (TA) untuk mendeteksi arah tren pergerakan harga saham. Rumusnya, selama penurunan tidak mematahkan tren, yang terjadi adalah koreksi. Cukup sederhana bukan?

Dalam hal ini, tren adalah patokan kita. Selama tren tidak terpatahkan, maka sikap optimis adalah pilihannya. Penurunan harga saham menjadi kesempatan beli pada harga yang bagus.  Sebaliknya, ketika tren terpatahkan, maka sikap pesimis adalah pilihannya. Harus menjual seberapa besarpun kerugian yang harus ditanggung.