Siklus Psikologi Trader

Seperti yang sudah diketahui, faktor psikologi sangat besar peranannya dalam kesuksesan seorang trader. Bahkan dapat dikatakan inilah faktor terpenting dalam trading. Jadi, sangat penting untuk mengenal bagaimana pergerakan (siklus) psikologi yang terjadi pada trader terhadap pergerakan harga.

Kita akan membahas tahap per tahap dari sebuah siklus psikologi yang (umumnya) terjadi pada seorang trader ketika harga bergerak dalam siklus — dari harga terendah ke tertinggi, dan kembali ke terendah. Mari lihat tahapan siklus psikologi dan siklus pergerakan harga berikut:

Siklus Psikologi Trader Saham/Forex

Dalam hal ini kurva menggambarkan siklus pergerakan harga dan titik menggambarkan tahapan psikologi trader. Dari melihat kurva tersebut harusnya sudah jelas bagaimana hubungan antara pergerakan harga dengan psikologi trader. Namun untuk meperjelas lagi, mari bahas titik per titik (tahap per tahap).

Optimis. Semua keputusan untuk membeli pasti didorong oleh rasa optimis. Trader mulai membeli karena yakin (optimis) bahwa pergerakan harga akan bergerak naik dan memberi keuntungan.

Gembira. Sesuai prediksi, harga bergerak naik setelah pembelian. Tentu sang trader bergermbira karena keuntungan sudah di depan mata.

Sensasi. Harga terus bergerak naik. Potensi keuntungan pun semakin menebal. Dalam tahap ini, trader merasakan sensasi kepuasan yang besar karena keputusannya ternyata berbuah manis.

Euforia. Harga tiba pada puncaknya. Potensi keuntungan sangat besar. Trader merasakan euforia. Merasa bahwa dirinya telah mencapai tahap “dewa trading”. Merasa sudah menemukan sistem trading yang paling sempurna.

Gelisah. Harga mulai menunjukkan gejala bergerak turun. Trader mulai merasa gelisah. Mulai menimbang-nimbang untuk menjual. Keluar dari pasar. Namun dilain sisi, takut bahwa harga akan bergerak naik kembali.

Penolakan. Harga ternyata terus bergerak turun. Trader mulai bersikap menolak kenyataan. Melakukan pembenaran bahwa yang terjadi hanyalah koreksi sesaat. Harga pasti akan segerak bergerak naik kembali.

Takut. Ternyata harga turun semakin dalam. Trader mulai menyadari kenyataan. Mulai merasakan takut. Takut karena mulai melihat kerugian. Takut kerugian akan semakin dalam.

Putus asa. Harga terus turun. Kerugian semakin besar. Trader melihat kenyataan tidak sesuai dengan perkiraan semula. Mulai putus asa. Tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Panik. Harga turun semakin dalam. Kerugian terus membesar. Trader menjadi panik. Panik untuk menyelamatkan modal yang tersisa. Dalam tahap inilah terjadi panic selling (penjualan dalam kepanikan).

Pasrah. Harga terus turun. Kerugian sudah sangat besar. Dalam tahap ini, trader (jika belum menjual) mulai pasrah. Membiarkan saja modalnya diombang-ambingkan pasar. Tidak lagi berusaha berbuat sesuatu untuk menyelamatkan modal.

Patah Semangat. Penurunan harga terus terjadi. Kerugian sudah sangat besar. Pada tahap ini, trader merasa dirinya sangat bodoh. Tidak punya kemampuan sama sekali untuk menjadi seorang trader.

Depresi. Harga terus turun mencapai titik terendahnya. Kerugian sudah maksimal. Trader merasa benar-benar sudah tidak punya harapan lagi. Tidak mungkin harga akan bergerak naik kembali. Trader dalam kondisi depresi.

Harapan. Pergerakan harga mulai menunjukkan tanda-tanda naik. Trader seperti melihat secercah cahaya dalam kegelapan tapi masih menyimpan keraguan akibat pengaruh depresi sebelumnya. Ragu namun sudah punya sedikit harapan kedepannya.

Lega. Harga bergerak naik. Trader pun merasakan kelegaan yang luar biasa. Ternyata tahap paling buruk (kerugian paling besar) telah terlewati. Kerugian semakin mengecil. Potensi keuntungan mulai terbayang di depan mata.

Optimis. Harga saham terus bergerak naik. Kerugian sebelumnya telah terhapus. Potensi keuntungan semakin tampak jelas. Trader pun kembali menjadi optimis. Optimis bahwa harga akan terus bergerak naik dan keuntungan akan terus membesar.