Pola Pikir Binari dalam Bisnis Saham

Pola pikir Binari adalah pola pikir hitam-putih. Kalo tidak hitam ya putih. Tidak ada warna lain, misalnya merah,  hijau, atau bahkan abu-abuh. Ada yang berpendapat bahwa pola pikir Binari itu tidak cocok diterapkan dalam Bisnis Saham.  Ada benarnya juga sih. Bisnis saham itu biasanya subjektif. Tergantung masing-masing pelakunya.  Tidak ada suatu hal yang mutlak harus diikuti oleh semua orang.

Bahkan untuk satu orang sekalipun bisa melakukan hal yang berbeda jika situasinya berbeda.  Semuanya relatif. Tergantung kebutuhan masing-masing yang begitu bermacam-macam. Jelas Binari A atau B tidak bisa mengakomodasi kebutuhan yang bermacam-macam ini. Tidak bisa hanya A atau B. Harus ada C, D, E, dst. Bahkan jika perlu Aa, Bb, Cc, Dd, dst. Dibutuhkan pola pikir yang terbuka. Yang membuka pada berbagai kemungkinan.

Bisnis Saham sering disebut sebagai setengah seni. Sebagaimana kita ketahui seni itu sangat subjektif. Tergantung masing-masing penikmatinya. Ini menggambarkan bahwa tidak bisa berpikir saklek hitam-putih dalam Bisnis Saham. Lagian, berdasarkan pengalaman selama ini, dalam Bisnis Saham itu (hampir) semuanya berlandaskan teori kemungkinan (probabilitas). Jadi sangat tidak pas jika memakai pola pikir Binari

Pola Pikir Binari dalam Bisnis Saham

Namun, pada suatu titik, pola pikir Binari  mendapat tempat terhormat dalam Bisnis Saham. Binari untung-rugi. Menurut saya inilah satu-satunya pola pikir Binari yang dapat diterima dalam Bisnis Saham. Bahkan jika bisa disebutkan, harus diterima. Jika tidak untung ya rugi. Begitulah kenyataan dalam Bisnis Saham. Inilah hasil akhir dari bermacam-macam proses (yang tidak mungkin ditampung oleh pola pikir Binari) dalam Bisnis Saham.

Ya, pada akhirnya semuanya dinilai oleh sebuah pola pikir Binari. Binari untung-rugi. Jika untung, berarti proses yang dilakukan selama ini sudah benar dan harus diteruskan. Jika rugi, berarti ada yang salah dalam proses yang dilakukan. Harus dicari dimana salahnya dan diperbaiki sehingga hasil akhirnya untung. Proses ini terus-menerus dilakukan dan selalu menyesuaikan dengan kondisi terkini. Proses tidak Binari yang kemudian dinilai oleh Binari pada akhirnya.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa memang pola pikir Binari tidak pas diterapkan dalam proses Bisnis Saham. Ini karena sifatnya yang sangat multi faktor. Begitu banyak faktor yang terlibat dalam proses bisnisnya sehingga hampir mustalih melakukannya dengan pola pikir Binari. Itu cerita proses. Namun, ketika hasil (produk) akhir telah ada, lain lagi ceritanya.  Dalam menilai hasil akhir dari Bisnis Saham, pola pikir Binari haruslah diterapkan. Binari untung – rugi lah penilai akhirnya.