Penyakit Saham: Takut Ketinggalan Kereta

Sebagai trader yang normal pasti sering mengalami rasa takut untuk membeli  saham yang telah naik cukup tinggi. Ini karena dalam persepsi kita, saham yang sudah naik lebih tinggi akan punya peluang yang lebih besar untuk turun setelahnya. Jika kita memaksakan untuk membeli, takutnya akan mengalami kerugian yang tidak sedikit karena setelahnya, harga juga turun signifikan.

Namun ada efek samping yang cukup berbahaya bagi trader ketika menerapkan pola pikir menghindari resiko ini. Akan merasa sangat menyesal kenapa tidak ikut membeli saham tersebut dari awal. Jika saja membeli, maka akan turut merasakan sebuah keuntungan yang spektakuler. Dan ternyata tidak cuma itu penyesalan yang dapat dialami akibat pola  pikir tesebut.

Bisa saja, setelah naik cukup tinggi, ternyata harga saham tersebut bergerak naik lebih tinggi lagi setelahnya. Kitapun merasa kecele. Karena takut membeli malah jadi kehilangan kesempatan untuk menikmati keuntungan yang lebih tinggi lagi. Efek penyesalan-penyesalan tesebut akan sangat berbahaya bagi para trader.

Penyesalan-penyesalan trader tersebut dapat menjadi sebuah penyakit yang berbahaya bagi trader. Penyakit takut ketinggalan kereta. Penyakit yang akan menyebabkan trader menjadi lebih grasak-grusuk. Penyakit yang menyebabkan trader akan lebih toleran pada resiko. Akan menjadi terlalu berani mengambil resiko. Pada tahap yang lebih parah akan mengabaikan sistem trading hanya demi agar jangan sampai ketinggalan kereta.

penyakit saham takut ketinggalan kereta

Berdasarkan pengalaman, penyakit ketinggalan kereta ini sangat bisa menghancurkan seorang trader. Seperti yang sudah dibahas pada paragraf sebelumnya, penyakit ketinggalan kereta ini akan membuat trader mengabaikan faktor resiko hanya demi buru-buru membeli sebuah saham. Hitung-hitungannya belum terkonfirmasi, eh sudah membeli/menjual. Atau lebih parah lagi, hitung-hitungannya tidak masuk tapi karna melihat pergerakan saham yang agresif, jadi beli/jual.

Mungkin sekali-dua-kali, akan memberikan keuntungan yang spektakuler. Ini karena ternyata (kebetulan) dapat membeli tepat di lembah atau menjual tepat di puncak. Namun, untuk jangka panjang, sangat diragukan akan dapat tetap untuk secara akumulatif. Ini karena faktor resiko yang berperan didalamnya. Sebagaimana telah dibahas, hal ini menjadi sangat beresiko karena banya hal yang diabaikan hanya demi mengejar agar jangan sampai ketinggalan kereta.

Nah, untuk menghindari agar jangan sampai terjangkit penyakit takut ketinggalan kereta ini, kita harus benar-benar sadar bahwa alat bantu yang kita gunakan tidaklah sempurna. Analisa Teknikal (TA) itu hampir mustahil untuk mendeteksi awal sebuah gerakan (entah gerakan naik atau turun). Yang terjadi biasanya adalah sinyal keluar setelah ada gerakan dalam waktu tertentu — bukan di awal gerakan. Kita harus sadar dari awal tentang hal ini.

Dengan menyadarinya sedari dini maka niscaya kita tidak akan mengalami penyesalan-penyesalan yang telah dibahas diawal artikel ini. Ini karena kita telah sadar penuh bahwa kita memilih jadi trader (menggunakan indikator Analisa Teknikal) yang memang mustahil untuk membeli tepat di lembah dan menjual tepat di puncak. Jadi tidak akan menyesal walau hanya dapat bertransaksi berberapa saat setelah harga bergerak.