Bersakit-Sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Ternyata pepatah lama memang mempunyai filosofi yang tepat menggambarkan suatu kondisi dalam bisnis saham. Sebelumnya kita telah mengupas pepatah lama — biar lambat asal selamat dan rajin menabung pangkal kaya. Kita juga membahas bagaimana kaitannya dengan bisnis saham. Kali ini, mari kembali membahas pepatah lamalainnya dan kaitannya dengan bisnis saham. Yang kita bahas kali ini adalah Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Kita pasti sudah familiar dengan pepatah ini. Pepatah bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian sudah sering disinggung selama hidup kita – setidaknya dari jaman kita SD. Pepatah ini mengajarkan filosofi bahwa jika ingin mencapai sesuatu, kita harus rela bersakit-sakit dahulu. Dalam kata lain, tanpa pengorbanan maka tidak akan ada hasil yang didapat. Ternyata filosofi dari pepatah ini juga dikenal luas dalam dunia barat.

Mereka menyebutnya No Pain, No Gain. Terjemahan bebasnya tidak akan ada hasil tanpa rasa sakit. Filosofinya adalah jangan pernah mengharapkan suatu hasil datang begitu saja. Kita harus selalu berusaha mendapatkannya. Sama dengan filosofi pepatah bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian bukan? Filosofi ini sangat tepat diterapkan dalam berbisnis saham. Kita harus rela berkorban terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil dari bursa saham.

Bersakit-sakit-dahulu-Bersenang-senang-kemudian

Contoh paling dekat adalah ketika kita baru mau memulai untuk berbisnis saham. Kita tentu mau mengorbankan waktu, uang, dan pikiran untuk mempelajari segala aspek dalam bisnis saham. Ini jika kita memang ingin memulai dengan langkah yang benar. Dapat dibayangkan bagaimana jika kita tidak mau berkorban sama sekali. Kita langsung saja terjun ke bisnis saham tanpa proses belajar terlebih dahulu. Kitalah yang akan menjadi korban.

Tujuan berbisnis saham pun jadi tidak tercapai. Tentu saja jika tujuannya adalah seperti tujuan dari semua bisnis didunia ini — untuk menghasilkan keuntungan. Lain soal jika ternyata tujuannya memang hendak menghabiskan uang. Tentu tidak perlu bersakit-sakit dahulu untuk belajar. Selanjutnya, setelah belajar, kita perlu modal untuk berbisnis saham. Bahkan modal adalah yang utama. Dalam hal ini, kita dituntut untuk berkorban lagi.

Berkorban untuk menunda beberapa kesenangan dalam hidup agar kita punya modal yang cukup untuk berbisnis saham Kita perlu menunda untuk membeli rumah yang lebih bagus, jalan-jalan ke luar negeri, membeli gadget terbaru, atau mengganti mobil. Mungkin kita juga perlu untuk mengurangi frekuensi bersenang-senang dan mengalokasikan dananya untuk berbisnis saham. Kita akan perlu untuk menunda kesenangan agar dananya bisa dialokasikan dalam bisnis saham.

Tentu kita melakukan pengorbanan ini dengan harapan dana tersebut akan terus berkembang. Diharapkan, dimasa mendatang, kita akan punya dana untuk terus berbisnis dan juga dapat bersenang-senang. Inilah mengapa disebut kita menunda kesenangan bukan meniadakan kesenangan. Kedua contoh yang telah kita bahas adalah bentuk nyata dalam menerapkan filosofi “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” , dalam bisnis saham.