Berani Rugi, Takut Untung

Kali ini mari kita bahas salah satu penyakit yang sangat merugikan bagi pebisnis saham. Saya menyebut penyakit ini adalah “Berani Rugi, Takut Untung”. Dari namanya, harusnya kita sudah tahu penyakit yang bagaimana ini. Sayangnya, penyakit ini sangat sering menghingapi para pebisnis saham – terutama yang bertipe trader. Penyakit ini muncul sebagai akibat dari trauma yang diperoleh dalam volatilitas bursa saham. Trauma yang berefek pada psikologi (mental) para trader.

Suatu hari kita membeli saham karena memprediksi harganya akan naik. Namun, apa daya, ternyata prediksi kita salah. Harga saham itu terus turun dari hari ke hari. Setelah memikirkan cukup lama, akhirnya kita memutuskan untuk jual rugi (cut loss). Eh, ternyata, keesokan harinya, harga saham tersebut terbang tinggi. Harganya bahkan terus naik dalam hari-hari selanjutnya. Penyesalan pun muncul. Kita menyesal telah menjual saham tersebut.

Berani-Rugi-Takut-Untung

Kita menyesal telah kehilangan kesempatan untuk meraih untung dan bahkan harus membukukan kerugian yang lumayan. Coba kalo kita tahan saja saham tersebut, keuntungan yang besar sudah di tangan. Jika sering terjadi maka hal ini akan membuat kita menjadi ragu-ragu untuk melakukan cut loss (jual rugi). Kita akan selalu berpikiran bahwa harga saham masih dapat bergerak kembali ke atas. Ini akan sangat berbahaya karena seringnya, harga saham malah terus meluncur ke bawah.

Pada hari yang lain, kita memutuskan untuk belum merealisasikan keuntungan dari sebuah saham dengan menjualnya. Kita memutuskan untuk menunggu dulu karena memprediksikan harga akan masih terus bergerak naik. Kita mengharapkan keuntungan yang lebih besar lagi. Namun, apa daya, ternyata tren pergerakan saham berbalik arah. Harga meluncur deras ke bawah. Bahkan berada di bawah harga pembelian kita. Ini berarti dari untung ternyata sekarang menjadi buntung.

Kita pun menyesal. Menyesal kenapa tidak menjual saja saham tersebut dan mendapat untung yang lumayan. Lah, kalo jual sekarang yang ada malah kerugian. Dalam hal ini, kita menyesal telah melewatkan peluang mendapat untung yang sudah di depan mata. Alih-alih untung yang lebih besar, malah menuai kerugian yang tidak sedikit pada akhirnya. Jika terus terjadi, maka dapat membuat kita takut untuk mengikuti harga saham yang terus bergerak naik.

Kita takut bahwa harga saham sewaktu-waktu akan berbalik arah dan meluncur tajam seperti yang telah terjadi sebelumnnya. Ini akan membuat kita terburu-buru dalam melepas saham. Begitu untung sedikit, langsung kita jual. Nah, dalam hal ini kita telah menggambarkan apa yang disebut dengan “Berani Rugi, Takut Untung”. Ini sebenarnya masalah mentalitas yang terbentuk karena beberapa kali ternyata  keputusan kita sebelumnnya sering salah.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, mentalitas kita menjadi takut untuk menjual rugi (cut loss) karena merasa harga dapat kembali naik, dan takut untuk membiarkan saham kita untuk terus mengakumulasi keuntungan karena merasa harga dapat berbalik arah sewaktu-waktu. Mentalitas ini sangat berbahaya karena akan membuat kita untuk mengakumulasi kerugian (karena takut cut loss) dan meminimalkan keuntungan (karena takut mengikuti kenaikan harga).

Comments

  1. Hi Pak Perdana,

    Solusinya apa kalau sudah kena penyakit “berani rugi dan takut untung”?

    BR,
    Tony

  2. Buat trading plan dan dan disiplin mengikuti plan tersebut.