Memahami Jenuh Beli dan Jenuh Jual

Jenuh Beli dan Jenuh Jual

Kedua kata tersebut seharusnya sudah sering kita dengar. Bahkan telah berkali-kali disebutkan dalam berbagai artikel Sekolah Saham.

Jenuh Beli dan Jenuh Jual adalah term yang digunakan dalam Analisa Teknikal (TA). Lebih tepatnya pada indikator Analisa Teknikal (TA) yang bersifat osilator seperti Stochastic, MFI, RSI, dll.

Jenuh me-refer pada kondisi dimana situasinya telah sampai pada titik tertinggi atau titik terendah. Tentu saja dalam batas kira-kira. Dianggap tidak mungkin bergerak lebih tinggi lagi atau lebih rendah lagi.

Jenuh beli berarti kegiatan beli telah maksimal. Hampir semua orang sudah membeli. Jadi (kira-kira) sudah tidak ada lagi tersisa yang akan membeli. Harga suda tidak akan bergerak lebih tinggi lagi.

Jenuh Beli

Jenuh jual berarti kegiatan jual telah maksimal. Hampir semua orang sudah menjual. Jadi (kira-kira) sudah tidak ada lagi tersisa yang menjual. Harga sudah tidak akan bergerak lebih rendah lagi.

Jenuh Jual

Begitulah kira-kira pemahaman kasar dari Jenuh Beli dan Jenuh Jual ini.

Tapi apa benar-benar begitu? Apa benar benar harga tidak dapat bergerak lebih tinggi lagi pada jenuh beli? Apa benar-benar harga tidak dapat bergerak lebih rendah lagi pada jenuh jual?

Berdasarkan pengalaman ternyata tidak. Harga dapat terus bergerak lebih tinggi lagi pada jenuh beli. Harga dapat terus bergerak lebih rendah lagi pada jenuh jual.

Lah, berarti jenuh jual dan jenuh beli tidak ada gunanya dong?

Untungnya, tetap ada gunanya. Percayalah,  tidak akan pernah sia-sia kita menggunakan indikator Analisa Teknikal (TA) yang menunjukkan sinyal jenuh beli dan jenuh jual.

Hanya saja kita harus memahami bahwa jenuh jual bukan berarti sinyal untuk mulai membeli dan jenuh beli bukan berarti sinyal untuk mulai menjual.

Jenuh beli adalah sinyal yang mengatakan sebaiknya kita berhenti membeli karena resiko sudah sangat tinggi. Resiko bahwa pergerakan harga akan berbalik arah menjadi turun.

Jenuh jual adalah sinyal yang mengatakan sebaiknya kita berhenti menjual karena resiko sudah sangat tinggi. Resiko bahwa pergerakan harga akan berbalik arah menjadi naik.

Intinya daerah jenuh adalah peringatan bahwa akan terjadi pembalikan arah sewaktu-waktu. Soal kapan tepatnya terjadinya pembalikan arah, itu soal lain.

Sinyal jenuh tidak dapat memberikan kepastian soal kapan akan terjadi pembalikan arah tersebut. Sinyal jenuh hanya memberitahu bahwa resiko sudah tinggi dan kita harus sangat hati-hati.

Comments

  1. izin share ya kak Lingga 🙂