Indikator Selalu Benar

Ya, dalam ranah analisis teknikal (TA) judul tersebut benar adanya.

Ups … jangan emosi dulu yak, jangan demo mosi tidak percaya dulu. Percayalah, ini tidak seperti yang dalam pikiran anda sekarang. Ok, kalo sudah tenang, mari kita lanjutkan membahas mengenai “Indikator Selalu Benar” ini. Ini maksudnya bukan berarti bahwa sinyal-sinyal dari indikator analisis teknikal (TA) pasti benar alias punya tingkat ketepatan 100%. Seperti yang sudah anda ketahui, saya termasuk orang yang tidak percaya holy grail itu ada.

Jadi jelas saya tidak percaya ada indikator analisis teknikal (TA) yang punya ketepatan 100%. Bahkan (jika tidak salah ingat), saya pernah menyatakan paling bagus tingkat ketepatan Indikator itu 60%. Ini sudah lebih dari cukup sebagai senjata ampuh asal kita kombinasikan dengan psikologi dan money management yang tepat. Jadi saya tidak akan pernah mencari indikator yang 100% tepat, tapi yang dipelajari adalah bagaimana menggunakan suatu indikator dengan tepat.

Nah, sudah cukup jelas bukan bahwa “Indikator Selalu Benar” ini bukan bahwa tingkat ketepatan indikator 100%. Jadi apa donk? “Indikator Selalu Benar” itu adalah aturan (rule) dalam menerapkan sinyal-sinyal dalam analisis teknikal. Aturan inilah yang harus kita pegang agar kita tidak terombang-ambing dalam menerapkan sinyal-sinyal tersebut. Agar kita bisa dengan disiplin dalam menerapkan sinyal-sinyal dari indikator yang sudah kita pilih sebagai senjata.

Aturannya adalah jika ternyata harga bergerak berlawanan dengan sinyal indikator analisis teknikal (TA) maka yang kita ikuti adalah sinyal indikator tersebut. Tentu sampai akhirnya sinyal indikator mengkonfirmasi pergerakan harga yang berlawanan tadi. Misalnya sinyal indikator mengatakan bahwa harga akan bergerak naik. Tentu sesuai aturan, kita membeli saham tersebut. Eh, ladalah … ternyata harga masih terus bergerak turun. Berikut contoh kejadiannya:

Divergence Indikator Analisis Teknikal

Tentu kita cek lagi sinyalnya, apakah memang sudah ada sinyal turun. Ternyata indikator masih memberikan sinyal bahwa harga sedang bergerak naik. Nah, dalam hal ini, kita harus mengikuti apa kata indikator. Kita harus terus mempertahankan (hold) saham tersebut sampai akhirnya ada sinyal turun dari indikator tersebut. Jadinya terlambat donk kalo harus menunggu dulu? Yup, benar memang akan sedikit terlambat.

Tapi apakah anda pernah berpikir bagaimana jika ternyata sinyal indikator tersebut yang benar? Tentu akan sangat menyesal jika telah terlanjur menjual bukan? Lagian, berdasarkan pengalaman saya selama ini, kebenaran lebih banyak dipihak indikator. Jadi dijamin akan lebih banyak untungnya mengikuti sinyal-sinyal dari indikator tersebut daripada melawannya.Btw, artikel ini adalah penjelasan sederhana dari Divergence.