Menghitung Kondisi Perusahaan

Sesuai janji saya di artikel Analisis Kondisi Perusahaan, mari membahas lebih jauh dan detail bagaimana mengetahui (menghitung) kondisi perusahaan sehingga dapat membantu kita dalam memutuskan apakah sebuah saham layak dibeli atau tidak. Diharapkan setelah membaca artikel ini, para pebisnis saham dapat lebih mengerti apa itu analisis kondisi perusahaan dan bagaimana menerapkannya untuk membuat keputusan yang tepat dalam berbisnis saham.

Seperti yang disinggung dalam artikel sebelumnnya bahwa ada beberapa aspek dari laporan keuangan perusahaan yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi sebuah perusahaan. Aspek-aspek tersebut adalah margin laba bersih (NPM/Net Profit Margin), Penghasilan per saham (EPS/Earning Per Share), Rasio harga terhadap pendapatan (Price Earning Ratio/PER), Nilai Buku (Book Value), Harga terhadap Nilai Buku (Price to Book Value/PBV), Rasio Utang (Debt Ratio), Rasio Arus Kas (Cash Flow Ratio), dan perputaran inventori (Inventory Turnover).

Menghitung Kondisi Perusahaan

Aspek-aspek tersebut akan sangat membantu kita untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari sebuah laporan keuangan sehingga kita akan mengerti bagaimana sebenarnya kondisi dari perusahaan tersebut. Dan pada akhirnya dapat membantu kita untuk meraih keuntungan maksimal dari pasar saham. Mari kita mulai membahas tiap aspek:

Margin Laba Bersih (NPM/Net Profit Margin)

Margin Laba Bersih adalah rasio keuntungan yang dihasilkan dengan membagi laba bersih dengan jumlah total penjualan. Berikut rumus perhitungannya:

NPM = Laba Bersih/Total Penjualan

Berdasarkan rumus di atas, dapat kita simpulkan bahwa Margin Laba Besih merepresentasikan tingkat keuntungan dari setiap penjualan yang berhasil dilakukan oleh sebuah perusahaan. Agar kita lebih mengerti, mari kita lihat pada contoh berikut, jika margin laba bersih adalah 50%, maka perusahaan akan menghasilkan 500 rupiah setiap harga penjualan 1000 rupiah.

Penghasilan Per Saham (EPS/Earning Per Share)

Penghasilan Per Saham (EPS/Earning Per Share) adalah rasio penghasilan setiap satu saham yang dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah total saham yang beredar. Berikut rumus perhitungannya:

EPS = Laba Bersih/Total Saham

Dari rumus di atas dapat kita simpulkan kalo EPS merepresentasikan seberapa menguntungkannnya setiap lembar saham. Dengan kata lain, EPS memberitahukan tingkat keuntungan dari setiap lembar saham yang ada. EPS akan sangat membantu kita untuk memperhitungkan seberapa besar hasil dari investasi kita untuk setiap lembar saham. Semakin tinggi nilai EPS berarti semakin menguntungkan saham tersebut.

Rasio Harga dan Pendapatan (PER/Price Earning Ratio)

Rasio Harga terhadap Pendapatan (PER) adalah rasio harga yang dihitung dengan membagi harga terkini saham dengan penghasilan per saham (EPS). Berikut rumus perhitungannnya:

PER = Harga Saham/EPS

Dari rumus di atas dapat kita lihat bahwa PER merepresentasikan seberapa bagus pasar meng-apresiasi sebuah saham. Biasanya juga telah merefleksikan seberapa menguntungkan perusahaan yang diwakili oleh saham tersebut. Semakin rendah nilai PER semakin bagus buat kita karena itu berarti harga saham tersebut masih murah. Ini berarti tingkat pengembalian investasi akan lebih tinggi. Dengan kata lain, PER dapat memberitahukan apakah harga saham itu murah (undervalued), normal (fairvalued), atau mahal (overvalued).

Nilai Buku (Book Value)

Nilai Buku (Book Value) adalah rasio nilai harga yang dihitung dengan membagi total ekuitas/aset bersih (total equity/net aset) dengan jumlah total saham. Berikut rumus perhitungannya:

Nilai Buku = Total Ekuitas/ Total Saham

Dalam hal ini, total ekuitas adalah nilai aset bersih yang diperoleh dari mengurangkan hutang dari total aset. Nilai buku biasanya digunakan untuk menentukan apakah sebuah saham itu murah atau mahal.

Harga Terhadap Nilai Buku (PBV/Price To Book Value)

Harga terhadap Nilai Buku (PBV) adalah rasio nilai buku yang dihitung dengan membagi harga saham dengan nilai bukunya. Berikut rumus perhitungannya:

PBV = Harga Saham/Nilai Buku

Dapat kta lihat bahwa PBV memberitahukan seberapa bagus pasar mengharga nilai buku dari sebuah perusahaan. Semakin tinggi nilai PBV semakin bagus karena itu berarti pasar mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap perusahaan tersebut. Dapat juga diartikan bahwa harga saham perusahaan akan terus meningkat di masa mendatang.

Rasio Arus Kas (Cash Flow Ratio)

Rasio Arus Kas adalah rasio likuiditas keuangan yang diperoleh dari membagi aset terkini dengan hutang terkini. Berikut rumus perhitungannya:

Rasio Arus Kas = Aset/Hutang

Dari rumus di atas dapat kita simpulkan bahwa rasio arus kas memberitahukan seberapa bagus tinggkat keuangan perusahaan untuk membayar utang-utangnya. Dengan kata lain, kita mengukur kemampuan perusahaan berdasarkan kewajibannya. Semakin tinggin nilai rasio arus kas maka semakin bagus likuiditas keuangan perusahaan. Nilai 4 berarti perusahaan dapat membayar 4 kali dari nilai hutang terkini.

Rasio Hutang (Debt Ratio)

Rasio Hutang (Debt Ratio) adalah rasio pengungkit (leverage) yang dihitunga dengan membagi jumlah utang dengan jumlah aset perusahaan. Berikut rumus perhitungannya:

Rasio Hutang = Jumlah Hutang/Jumlah Aset

Rasio Hutang memberitahu kita tentang seberapa besar aset yang berasal dari hutang. 50% rasio hutang berarti setengah dari aset perusahaan berasal dari hutang. Sebenarnya hutang adalah netral – bisa berakibat baik atau buruk terhadap perusahaan. Tetapi dalam situasi krisis ekonomi, hutang bisanya menjadi beban yang sangat berat bagi perusahaan karena tingkat suku bunga yang meningkat tajam. Jadi sangat bijak jika kita menghindari saham2 perusahaan yang mempuna rasio hutang yang tinggi.

Perputaran Inventori (Inventory Turnover)

Perputaran inventori adalah rasio efisiensi yang diperoleh dari membagi biaya penjualan dengan inventori. Berikut rumus perhitungannya:

Perputaran Inventori = Biaya Penjualan/Inventori

Rasio ini memberitahukan kita seberapa efisien perusahaan berkaitan dengan pengelolaan inventorinya. Rasio ini memberitahukan seberapa bagus tinggal perputaran inventori perusahaan dalam satu tahun. Rasio ini akan sangat bergantung terhadap industri/sektor. Sebagai contoh, perusahaan penjual kebutuhan sehari-hari akan mempunya rasio lebih tinggi dibanding perusahaan penjual mobil.

Artikel Saham Lainnya:

Comments

  1. Pak Perdana, artikel ini sangat menarik. Saya ada beberapa pertanyaan :
    1. Dari formula di atas sepertinya jumlah dan harga saham mudah di dapatkan. Bagaimana dgn parameter lainnya spt inventory, laba bersih, jumlah hutang, aset, jumlah penjualan?
    2. Berapa lama sekali kita perlu melihat parameter fundametal tersebut?

    Terima kasih untuk sharingnya….

    • danalingga says:

      1. Untuk parameter lainnya bisa didapatkan dari laporan keuangan perusahaan. Bisa dicari di web resmi bursa indonesia (IDX).
      2. Setiap keluar laporan keuangan — setahu saya untuk di Indonesia setiap 4 bulan sekali.

Speak Your Mind

*